Saya adalah seseorang yang suka sekali memperhatikan orang lain. Saya suka mencermati tingkah laku seseorang, mulai dari caranya berbicara, menatap sesuatu, hingga bagaimana ia menjawab suatu argumen.
Saya sangat ingin tahu makna dari : mengapa seseorang mengaduk-aduk sedotan dalam minumannya ketika sedang diajak berbicara? Mengapa seseorang menggoyang-goyangkan tubuhnya ketika sedang berdiri, dan mengapa seseorang menunduk ketika berjalan. Sampai kepada hal-hal kecil yang jarang terdeteksi seperti gerakan mata dan bibir seseorang ketika sedang melamun. Saya suka mencermati itu.
Hobi saya ini kemudian saya tindak lanjuti, saya menemukan sifat2 ’terselubung manusia’ itu dari sebuah majalah. Saya suka sekali membaca apa yang tertulis disana.
Saya tidak tahu apa yang saya lakukan, tapi saya suka melakukan ini.
Lama-lama saya menjadi terbiasa, dan ini bagus, karena saya menjadi lebih peka terhadap lingkungan dan orang2 di sekitar saya. That’s great, rite?
Beberapa waktu lalu, saya mencermati seseorang.
Ia adalah seseorang yang punya keinginan tinggi mencapai sesuatu, terkadang ia menjadi sosok yang ambisius, tapi terkadang ia menjadi sosok yang hopeless. Seperti tidak memiliki harapan. Sosoknya yang keras, dibarengi dengan egonya yang tinggi adalah bagus untuk mencapai tujuannya. Tapi ia butuh dukungan besar untuk mencapai itu semua. ia moody, sifat keras dominan dalam dirinya. Watak dan hatinya keras bagai batu, rasa sayangnya terhadap sesuatupun ditunjukan dengan caranya yang tidak biasa.
Bisa kalian bayangkan seperti apa orang ini? Saya kelimpungan melihatnya.
Beberapa waktu lalu, ia menghampiri saya dan mengatakan bahwa ia ingin mencapai sesuatu, lalu saya bertanya, ”yakin?”
Dia : yakin. Saya cukup handal mengatasi ini
Saya : ok. Buktikan dengan caramu sendiri!
Dia : ok. Saya hanya butuh dukunganmu
Saya senang dengan hal ini, karena saya akan melihat seseorang dengan ego dan emosi yang tinggi akan membuktikan sesuatu. Saya segera mencermati, dan untuk kali ini, saya lebih cermat dan lebih berkonsentrasi. Saya hanya bergumam, ’ayoo! Mana buktinyaa?’.
Suatu hari, ia menghampiri saya, kami berhadapan ketika itu. Lalu ia dengan mudah mengatakan :
”saya menyerah. Saya tidak punya cukup uang untuk mengatasi ini. Kendaraan saya masuk bengkel sehingga saya tidak memiliki fasilitas untuk bepergian. Saya rasa ini bukan bidang saya, saya mundur!”
Saya tercengang dibuatnya, saya terkejut dengan yang dikatakannya. Sosok yang berdiri di hadapan saya ketika itu adalah seorang pria berbadan besar, wajah yang lumayan, dan orang yang mengumbar janjinya untuk meraih sesuatu dengan seolah-olah bumipun bisa digenggamnya. Tapi?
Ketika itu, banyak kalimat yang ingin saya katakan dari mulut saya, namun kalimat itu seolah-olah berebut ingin keluar, hinga akhirnya, speechless!
Saya lalu menenangkan diri saya. Menenangkan melihat (lagi2) ada seorang pecundang bermulut besar dihadapan saya. Tidak habis pikir. Ketika sudah mulai tenang, saya mulai berbicara, ”gampang sekali kamu menyerah?! kamu pecundang!”. ia lalu berdiri dan ingin pergi. Entah, apakah kalimat saya salah? Saya sangat membenci pria yang gampang menyerah. Itu sangat menyebalkan!
Lalu saya katakan lagi, ” dengan kekurangan yang ada seharusnya kamu bisa lebih kreatif, gunakan yang ada untuk mencapai sesuatu yang kamu inginkan! Percuma saja saya mendukung kamu kalau yang didukung ternyata tidak sekuat yang mendukung!”
Ia lalu menatap saya, dan bilang, ”saya akan buktikan! Kamu lihat saja”
Dengan enteng saya menjawab, ”ya ya! Oke oke!”
-karena saya tahu, jawabannya itu hanya bagian dari emosinya saja. dan itu tidak membuktikan apa2-
Saya sangat ingin tahu makna dari : mengapa seseorang mengaduk-aduk sedotan dalam minumannya ketika sedang diajak berbicara? Mengapa seseorang menggoyang-goyangkan tubuhnya ketika sedang berdiri, dan mengapa seseorang menunduk ketika berjalan. Sampai kepada hal-hal kecil yang jarang terdeteksi seperti gerakan mata dan bibir seseorang ketika sedang melamun. Saya suka mencermati itu.
Hobi saya ini kemudian saya tindak lanjuti, saya menemukan sifat2 ’terselubung manusia’ itu dari sebuah majalah. Saya suka sekali membaca apa yang tertulis disana.
Saya tidak tahu apa yang saya lakukan, tapi saya suka melakukan ini.
Lama-lama saya menjadi terbiasa, dan ini bagus, karena saya menjadi lebih peka terhadap lingkungan dan orang2 di sekitar saya. That’s great, rite?
Beberapa waktu lalu, saya mencermati seseorang.
Ia adalah seseorang yang punya keinginan tinggi mencapai sesuatu, terkadang ia menjadi sosok yang ambisius, tapi terkadang ia menjadi sosok yang hopeless. Seperti tidak memiliki harapan. Sosoknya yang keras, dibarengi dengan egonya yang tinggi adalah bagus untuk mencapai tujuannya. Tapi ia butuh dukungan besar untuk mencapai itu semua. ia moody, sifat keras dominan dalam dirinya. Watak dan hatinya keras bagai batu, rasa sayangnya terhadap sesuatupun ditunjukan dengan caranya yang tidak biasa.
Bisa kalian bayangkan seperti apa orang ini? Saya kelimpungan melihatnya.
Beberapa waktu lalu, ia menghampiri saya dan mengatakan bahwa ia ingin mencapai sesuatu, lalu saya bertanya, ”yakin?”
Dia : yakin. Saya cukup handal mengatasi ini
Saya : ok. Buktikan dengan caramu sendiri!
Dia : ok. Saya hanya butuh dukunganmu
Saya senang dengan hal ini, karena saya akan melihat seseorang dengan ego dan emosi yang tinggi akan membuktikan sesuatu. Saya segera mencermati, dan untuk kali ini, saya lebih cermat dan lebih berkonsentrasi. Saya hanya bergumam, ’ayoo! Mana buktinyaa?’.
Suatu hari, ia menghampiri saya, kami berhadapan ketika itu. Lalu ia dengan mudah mengatakan :
”saya menyerah. Saya tidak punya cukup uang untuk mengatasi ini. Kendaraan saya masuk bengkel sehingga saya tidak memiliki fasilitas untuk bepergian. Saya rasa ini bukan bidang saya, saya mundur!”
Saya tercengang dibuatnya, saya terkejut dengan yang dikatakannya. Sosok yang berdiri di hadapan saya ketika itu adalah seorang pria berbadan besar, wajah yang lumayan, dan orang yang mengumbar janjinya untuk meraih sesuatu dengan seolah-olah bumipun bisa digenggamnya. Tapi?
Ketika itu, banyak kalimat yang ingin saya katakan dari mulut saya, namun kalimat itu seolah-olah berebut ingin keluar, hinga akhirnya, speechless!
Saya lalu menenangkan diri saya. Menenangkan melihat (lagi2) ada seorang pecundang bermulut besar dihadapan saya. Tidak habis pikir. Ketika sudah mulai tenang, saya mulai berbicara, ”gampang sekali kamu menyerah?! kamu pecundang!”. ia lalu berdiri dan ingin pergi. Entah, apakah kalimat saya salah? Saya sangat membenci pria yang gampang menyerah. Itu sangat menyebalkan!
Lalu saya katakan lagi, ” dengan kekurangan yang ada seharusnya kamu bisa lebih kreatif, gunakan yang ada untuk mencapai sesuatu yang kamu inginkan! Percuma saja saya mendukung kamu kalau yang didukung ternyata tidak sekuat yang mendukung!”
Ia lalu menatap saya, dan bilang, ”saya akan buktikan! Kamu lihat saja”
Dengan enteng saya menjawab, ”ya ya! Oke oke!”
-karena saya tahu, jawabannya itu hanya bagian dari emosinya saja. dan itu tidak membuktikan apa2-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar