pagi ini aku terbangun pukul 9 pagi.
itupun setelah ayahku masuk ke kamar dan mengetuk lemari pakaianku sambil berkata, "bangun! bangun! saur! saur!".
ini adalah hari terpagi bagiku, karena entah mengapa setiap libur (seperti hari ini dan 20 hari ke depan) aku selalu bangun pukul 10. seperti sudah menjadi hal yang tidak aneh lagi bagiku karena akupun tidak tahu mengapa mataku tiba2 terbuka ketika sudah tepat pukul 10. terlebih ketika kamarku telah di re-position, tambah pulas saja tidurku. hehe.
FYI : beberapa hari lalu aku dan keluargaku kerja bakti menata kamar 'baru' ku. lemari besar, tempat tidur laci, dan lemari buku semua dirombak posisinya. tempat tidur itu sekarang sudah hilang, tinggal 'laci' nya saja. dan cat kamarku juga berubah, yang tadinya satu sudut kamar berwarna hijau, sekarang sudah menjadi abu-abu dan hitam. jadi ramai warnanya sekarang! hihi. satu sudut berwarna merah-kuning-biru, sudut lain berwarna-warni dengan coretan2 bergambar tokoh2 disney, dan sudut lain warna baru favoritku tadi. abu-abu dan hitam.
kembali pada topik utama kita.
akibat kaget dibangunin bokap, akhirnya kepala ku sedikit pusing. tidak langsung bangun, akupun hanya membuka mata dan (hihi) langsung menutup tubuhku lagi dengan selimut. sesekali aku mengintip dari balik selimut, ternyata ayahku masih berdiri di posisinya.
ayah lalu bilang, "banguuunn taa! uda siang! gak malu sama ayam?".
sambil mengantuk aku menyaut, "huuuhh ayaaaaahh! bentaran deh! dingiiiiinn!".
ayah lalu enyah dari kamarku. dalam hitungan detik tiba2 ibu ku datang. tanpa berbicara banyak, ibu langsung membuka jendela kamar dan menyalakan tv di kamarku. ibu lalu duduk di tempat tidur dan mengelus kepalaku, "taa! bangun! uda siang. tuh di belakang ibu buat jus alpukat".
ibu memang senang sekali membuat jus, tiap pagi dan sore ibu pasti membuat jus tomat untuk kami. tidak pernah absen seharipun!
'jus alpukat' ?? mendengar itu aku langsung bangun. itu adalah jus kesukaanku. karena ibu hanya membuat 1 gelas, aku langsung ke dapur mengambil jus itu karena kalau tidak cepat, kakaku akan segera meminumnya. kakaku seperti omnivora, apapun makanan yang menganggur, tanpa peduli milik siapa, ia pasti langsung melahapnya! dasar omni !huh.
ada segelas besar jus alpukat! waaaaaw! aku langsung mandi-berpakaian-dan sambil online membuka e-mail, aku meminum jus! nikmatnya duniaaaa! hihi.
ibu tiba2 datang, ia bilang, "abis ini diminum ya jus tomatnya!". uuhh, mau sihh, tapi aku baru saja minum jus alpukat ukuran besar, aku juga baru saja menyantap nasi goreng sepiring besar ditambah ayam bumbu, masa masih harus diisi jus tomat?
"nanti aja yaa buuu, kembuuung!"
"yaudah nanti, tapi 10 menit lagi yaa!"
aaahh. entah aku harus apa, memaksa meminum jus tomat kedalam tenggorokan dan mengalirkannya ke perutku hingga akhirnya aku seperti ular yang baru saja makan siang yang tidak dapat menggerakkan tubuhnya, ataukah aku membiarkan jus itu di dalam kulkas sampai nanti sore hingga tiba saatnya nanti aku harus meminumnya berbarengan dengan menu-ku yang lain? apa bedanya dengan sekarang? toh sama2 akan kembung.
tapi mengapa berat badanku hanya naik se-ons setelah memakan banyak menu itu y?
Kamis, 05 Maret 2009
batu? bukan. agar2? bukan.
Saya adalah seseorang yang suka sekali memperhatikan orang lain. Saya suka mencermati tingkah laku seseorang, mulai dari caranya berbicara, menatap sesuatu, hingga bagaimana ia menjawab suatu argumen.
Saya sangat ingin tahu makna dari : mengapa seseorang mengaduk-aduk sedotan dalam minumannya ketika sedang diajak berbicara? Mengapa seseorang menggoyang-goyangkan tubuhnya ketika sedang berdiri, dan mengapa seseorang menunduk ketika berjalan. Sampai kepada hal-hal kecil yang jarang terdeteksi seperti gerakan mata dan bibir seseorang ketika sedang melamun. Saya suka mencermati itu.
Hobi saya ini kemudian saya tindak lanjuti, saya menemukan sifat2 ’terselubung manusia’ itu dari sebuah majalah. Saya suka sekali membaca apa yang tertulis disana.
Saya tidak tahu apa yang saya lakukan, tapi saya suka melakukan ini.
Lama-lama saya menjadi terbiasa, dan ini bagus, karena saya menjadi lebih peka terhadap lingkungan dan orang2 di sekitar saya. That’s great, rite?
Beberapa waktu lalu, saya mencermati seseorang.
Ia adalah seseorang yang punya keinginan tinggi mencapai sesuatu, terkadang ia menjadi sosok yang ambisius, tapi terkadang ia menjadi sosok yang hopeless. Seperti tidak memiliki harapan. Sosoknya yang keras, dibarengi dengan egonya yang tinggi adalah bagus untuk mencapai tujuannya. Tapi ia butuh dukungan besar untuk mencapai itu semua. ia moody, sifat keras dominan dalam dirinya. Watak dan hatinya keras bagai batu, rasa sayangnya terhadap sesuatupun ditunjukan dengan caranya yang tidak biasa.
Bisa kalian bayangkan seperti apa orang ini? Saya kelimpungan melihatnya.
Beberapa waktu lalu, ia menghampiri saya dan mengatakan bahwa ia ingin mencapai sesuatu, lalu saya bertanya, ”yakin?”
Dia : yakin. Saya cukup handal mengatasi ini
Saya : ok. Buktikan dengan caramu sendiri!
Dia : ok. Saya hanya butuh dukunganmu
Saya senang dengan hal ini, karena saya akan melihat seseorang dengan ego dan emosi yang tinggi akan membuktikan sesuatu. Saya segera mencermati, dan untuk kali ini, saya lebih cermat dan lebih berkonsentrasi. Saya hanya bergumam, ’ayoo! Mana buktinyaa?’.
Suatu hari, ia menghampiri saya, kami berhadapan ketika itu. Lalu ia dengan mudah mengatakan :
”saya menyerah. Saya tidak punya cukup uang untuk mengatasi ini. Kendaraan saya masuk bengkel sehingga saya tidak memiliki fasilitas untuk bepergian. Saya rasa ini bukan bidang saya, saya mundur!”
Saya tercengang dibuatnya, saya terkejut dengan yang dikatakannya. Sosok yang berdiri di hadapan saya ketika itu adalah seorang pria berbadan besar, wajah yang lumayan, dan orang yang mengumbar janjinya untuk meraih sesuatu dengan seolah-olah bumipun bisa digenggamnya. Tapi?
Ketika itu, banyak kalimat yang ingin saya katakan dari mulut saya, namun kalimat itu seolah-olah berebut ingin keluar, hinga akhirnya, speechless!
Saya lalu menenangkan diri saya. Menenangkan melihat (lagi2) ada seorang pecundang bermulut besar dihadapan saya. Tidak habis pikir. Ketika sudah mulai tenang, saya mulai berbicara, ”gampang sekali kamu menyerah?! kamu pecundang!”. ia lalu berdiri dan ingin pergi. Entah, apakah kalimat saya salah? Saya sangat membenci pria yang gampang menyerah. Itu sangat menyebalkan!
Lalu saya katakan lagi, ” dengan kekurangan yang ada seharusnya kamu bisa lebih kreatif, gunakan yang ada untuk mencapai sesuatu yang kamu inginkan! Percuma saja saya mendukung kamu kalau yang didukung ternyata tidak sekuat yang mendukung!”
Ia lalu menatap saya, dan bilang, ”saya akan buktikan! Kamu lihat saja”
Dengan enteng saya menjawab, ”ya ya! Oke oke!”
-karena saya tahu, jawabannya itu hanya bagian dari emosinya saja. dan itu tidak membuktikan apa2-
Saya sangat ingin tahu makna dari : mengapa seseorang mengaduk-aduk sedotan dalam minumannya ketika sedang diajak berbicara? Mengapa seseorang menggoyang-goyangkan tubuhnya ketika sedang berdiri, dan mengapa seseorang menunduk ketika berjalan. Sampai kepada hal-hal kecil yang jarang terdeteksi seperti gerakan mata dan bibir seseorang ketika sedang melamun. Saya suka mencermati itu.
Hobi saya ini kemudian saya tindak lanjuti, saya menemukan sifat2 ’terselubung manusia’ itu dari sebuah majalah. Saya suka sekali membaca apa yang tertulis disana.
Saya tidak tahu apa yang saya lakukan, tapi saya suka melakukan ini.
Lama-lama saya menjadi terbiasa, dan ini bagus, karena saya menjadi lebih peka terhadap lingkungan dan orang2 di sekitar saya. That’s great, rite?
Beberapa waktu lalu, saya mencermati seseorang.
Ia adalah seseorang yang punya keinginan tinggi mencapai sesuatu, terkadang ia menjadi sosok yang ambisius, tapi terkadang ia menjadi sosok yang hopeless. Seperti tidak memiliki harapan. Sosoknya yang keras, dibarengi dengan egonya yang tinggi adalah bagus untuk mencapai tujuannya. Tapi ia butuh dukungan besar untuk mencapai itu semua. ia moody, sifat keras dominan dalam dirinya. Watak dan hatinya keras bagai batu, rasa sayangnya terhadap sesuatupun ditunjukan dengan caranya yang tidak biasa.
Bisa kalian bayangkan seperti apa orang ini? Saya kelimpungan melihatnya.
Beberapa waktu lalu, ia menghampiri saya dan mengatakan bahwa ia ingin mencapai sesuatu, lalu saya bertanya, ”yakin?”
Dia : yakin. Saya cukup handal mengatasi ini
Saya : ok. Buktikan dengan caramu sendiri!
Dia : ok. Saya hanya butuh dukunganmu
Saya senang dengan hal ini, karena saya akan melihat seseorang dengan ego dan emosi yang tinggi akan membuktikan sesuatu. Saya segera mencermati, dan untuk kali ini, saya lebih cermat dan lebih berkonsentrasi. Saya hanya bergumam, ’ayoo! Mana buktinyaa?’.
Suatu hari, ia menghampiri saya, kami berhadapan ketika itu. Lalu ia dengan mudah mengatakan :
”saya menyerah. Saya tidak punya cukup uang untuk mengatasi ini. Kendaraan saya masuk bengkel sehingga saya tidak memiliki fasilitas untuk bepergian. Saya rasa ini bukan bidang saya, saya mundur!”
Saya tercengang dibuatnya, saya terkejut dengan yang dikatakannya. Sosok yang berdiri di hadapan saya ketika itu adalah seorang pria berbadan besar, wajah yang lumayan, dan orang yang mengumbar janjinya untuk meraih sesuatu dengan seolah-olah bumipun bisa digenggamnya. Tapi?
Ketika itu, banyak kalimat yang ingin saya katakan dari mulut saya, namun kalimat itu seolah-olah berebut ingin keluar, hinga akhirnya, speechless!
Saya lalu menenangkan diri saya. Menenangkan melihat (lagi2) ada seorang pecundang bermulut besar dihadapan saya. Tidak habis pikir. Ketika sudah mulai tenang, saya mulai berbicara, ”gampang sekali kamu menyerah?! kamu pecundang!”. ia lalu berdiri dan ingin pergi. Entah, apakah kalimat saya salah? Saya sangat membenci pria yang gampang menyerah. Itu sangat menyebalkan!
Lalu saya katakan lagi, ” dengan kekurangan yang ada seharusnya kamu bisa lebih kreatif, gunakan yang ada untuk mencapai sesuatu yang kamu inginkan! Percuma saja saya mendukung kamu kalau yang didukung ternyata tidak sekuat yang mendukung!”
Ia lalu menatap saya, dan bilang, ”saya akan buktikan! Kamu lihat saja”
Dengan enteng saya menjawab, ”ya ya! Oke oke!”
-karena saya tahu, jawabannya itu hanya bagian dari emosinya saja. dan itu tidak membuktikan apa2-
tugas vs pacar
sekitar jam 7 malam, saya dan adik saya -dian- membuat perjanjian.
siapa yang paling cepat menyelesaikan buku bacaan yang tebalnya 150 halaman dalam waktu semalam akan diberi hadiah oleh yang menang.
adik saya meminta hadiah pulsa telpon, kalau ia menang, seharga 10 ribu rupiah.
dan saya, hanya meminta sebungkus richees, seharga seribu rupiah.
hal ini saya lakukan karena saya terlalu gemas dengan tugas sekolah adik saya yang menurut saya terlalu rumit untuknya. gurunya memberi tugas meresensi novel dalam waktu beberapa hari. kalau novelnya teenlit sih tidak apa2, tapi ini? novel tahun 20-an! mencari novelnya saja sudah memakan waktu, belum lagi bentuk kalimat yang disajikan, sangat-amat-tidak menarik! tentu saja hal itu akan sangat membuat adik saya tidak bersemangat mengerjakan tugas. terlebih ia tidak suka membaca.
makanya, saya berniat mengadakan 'taruhan' sederhana, agar ia bersemangat.
baru beberapa menit kami berkonsentrasi. tiba2 dian mendapat sms.
saya : dari siapa yan?
dian : adaa deh! *kalau sudah pegang hp, lupa segalanya*
saya : jadi taruhan gak nih? sms mulu!
dian : jadi dong ka! tunggu bentar! doni sms.
*doni adalah seseorang yang ia sebut pacar, tapi saya hanya menganggapnya sebagai teman bagi adik saya. karena mereka belum pantas berpacaran-menurut saya-*
saya masih setia dengan buku 'bila fenomena jurnalisme direfleksikan' yang bru saja saya beli. tapi dian?
saya : yaaan! kalo masih sms, sini hpnya! *saya merasa doni mulai mengganggu waktu adik saya*
dian : bentar2 ka! *sambil terus berkonsentrasi pada hpnya*
baru saja ia ingin menaruh hpnya, tiba2 hp nya berdering.
dian : yah ka! dia nelpon !
saya : sini hp nya! kaka mau ngomong!
dian : mau ngapain? gak ah kaa! malu!
saya : udah mana sini?! kaka mau kenalan! lagian kamu, bukannya belajar!
tapi saya gagal meraih hpnya, adik saya keburu kabur ke kamar kaka saya. dia bersembunyi disana. sambil menelpon dengan suara yang sengaja dipelankan.
saya berniat mengusiknya, agar ia berhenti menelpon dan meneruskan belajar, sebab kalau tidak dipaksa ia tidak akan mulai belajar lagi. apalagi kalau sudah pegang hp.
tapi ia malah berlari keluar, duduk di teras rumah, sambil bermain di kolam ikan ia teruskan lagi percakapan dengan 'pacarnya'.
karena kamar kami terlalu berantakan dengan buku2 yang hanya ia sebar namun sama sekali tidak disentuhnya, saya lalu berteriak :
'diaaaaaaann!! belajaaaaaarrr!'
adik saya tidak menyahut sama sekali, ia justru tertawa terbahak-bahak karena percakapannya ditelpon.
saya lalu menyalakan komputer karena ingin mencari data yang akan saya kirim kepada seorang kawan. saya tidak sadar sudah berapa lama saya duduk di tempat ini, namun ketika saya melihat jam tangan hitam di tangan kiri saya, tertulis : 23.00.
saya berjalan ke kamar karena ingin memastikan adik saya masih membaca atau tidak.
ternyata ia sudah tidur, lalu saya berbisik kepadanya,
saya : yaann, tadi dilanjutin gak bacanya? kan besok deadline!
dian : ngantuuuuk! kaka aja yah yang terusin!
saya : PALA LU !
sia2 taruhan kami.
siapa yang paling cepat menyelesaikan buku bacaan yang tebalnya 150 halaman dalam waktu semalam akan diberi hadiah oleh yang menang.
adik saya meminta hadiah pulsa telpon, kalau ia menang, seharga 10 ribu rupiah.
dan saya, hanya meminta sebungkus richees, seharga seribu rupiah.
hal ini saya lakukan karena saya terlalu gemas dengan tugas sekolah adik saya yang menurut saya terlalu rumit untuknya. gurunya memberi tugas meresensi novel dalam waktu beberapa hari. kalau novelnya teenlit sih tidak apa2, tapi ini? novel tahun 20-an! mencari novelnya saja sudah memakan waktu, belum lagi bentuk kalimat yang disajikan, sangat-amat-tidak menarik! tentu saja hal itu akan sangat membuat adik saya tidak bersemangat mengerjakan tugas. terlebih ia tidak suka membaca.
makanya, saya berniat mengadakan 'taruhan' sederhana, agar ia bersemangat.
baru beberapa menit kami berkonsentrasi. tiba2 dian mendapat sms.
saya : dari siapa yan?
dian : adaa deh! *kalau sudah pegang hp, lupa segalanya*
saya : jadi taruhan gak nih? sms mulu!
dian : jadi dong ka! tunggu bentar! doni sms.
*doni adalah seseorang yang ia sebut pacar, tapi saya hanya menganggapnya sebagai teman bagi adik saya. karena mereka belum pantas berpacaran-menurut saya-*
saya masih setia dengan buku 'bila fenomena jurnalisme direfleksikan' yang bru saja saya beli. tapi dian?
saya : yaaan! kalo masih sms, sini hpnya! *saya merasa doni mulai mengganggu waktu adik saya*
dian : bentar2 ka! *sambil terus berkonsentrasi pada hpnya*
baru saja ia ingin menaruh hpnya, tiba2 hp nya berdering.
dian : yah ka! dia nelpon !
saya : sini hp nya! kaka mau ngomong!
dian : mau ngapain? gak ah kaa! malu!
saya : udah mana sini?! kaka mau kenalan! lagian kamu, bukannya belajar!
tapi saya gagal meraih hpnya, adik saya keburu kabur ke kamar kaka saya. dia bersembunyi disana. sambil menelpon dengan suara yang sengaja dipelankan.
saya berniat mengusiknya, agar ia berhenti menelpon dan meneruskan belajar, sebab kalau tidak dipaksa ia tidak akan mulai belajar lagi. apalagi kalau sudah pegang hp.
tapi ia malah berlari keluar, duduk di teras rumah, sambil bermain di kolam ikan ia teruskan lagi percakapan dengan 'pacarnya'.
karena kamar kami terlalu berantakan dengan buku2 yang hanya ia sebar namun sama sekali tidak disentuhnya, saya lalu berteriak :
'diaaaaaaann!! belajaaaaaarrr!'
adik saya tidak menyahut sama sekali, ia justru tertawa terbahak-bahak karena percakapannya ditelpon.
saya lalu menyalakan komputer karena ingin mencari data yang akan saya kirim kepada seorang kawan. saya tidak sadar sudah berapa lama saya duduk di tempat ini, namun ketika saya melihat jam tangan hitam di tangan kiri saya, tertulis : 23.00.
saya berjalan ke kamar karena ingin memastikan adik saya masih membaca atau tidak.
ternyata ia sudah tidur, lalu saya berbisik kepadanya,
saya : yaann, tadi dilanjutin gak bacanya? kan besok deadline!
dian : ngantuuuuk! kaka aja yah yang terusin!
saya : PALA LU !
sia2 taruhan kami.
Langganan:
Komentar (Atom)
